Paradigma Baru Pariwisata Indonesia: Dari Kuantitas ke Kualitas
ANGKARAJA — Anggota Komisi VII DPR RI, Mujakkir Zuhri, mendorong Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk mempercepat pergeseran paradigma dalam pengembangan sektor pariwisata nasional. Fokus pembangunan dinilai harus beralih dari sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan ke arah peningkatan kualitas pengalaman, nilai ekonomi yang berkelanjutan, serta manfaat sosial yang lebih nyata bagi masyarakat.
Keselamatan dan Kenyamanan sebagai Fondasi
Mujakkir menekankan bahwa sektor pariwisata ke depan harus mengutamakan prinsip zero accident dan meninggalkan kesan yang mendalam. Oleh karena itu, faktor keselamatan dan kenyamanan wisatawan menjadi aspek kunci yang harus menjadi perhatian bersama dalam setiap pembenahan.
“Berkaca dari insiden seperti tenggelamnya pelatih Valencia, Fernando Martin Carreras, di Labuan Bajo beberapa waktu lalu, kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi bersama. Ini menyadarkan kita semua akan pentingnya menghadirkan pariwisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga aman dan bertanggung jawab,” ujar Mujakkir melalui keterangan tertulis.
Mengukur Lebih dari Sekadar Kunjungan
Menurut pandangannya, kesuksesan pariwisata tidak boleh lagi hanya diukur dari statistik kedatangan wisatawan. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut dirasakan oleh setiap tamu, kesiapan masyarakat lokal dalam menyambut, dan bagaimana manfaat ekonomi dari sektor ini benar-benar dapat dirasakan dan mengalir kembali ke daerah tujuan wisata.
“Pola perjalanan wisata modern yang menawarkan tantangan sekaligus peluang harus dijawab dengan kreativitas dan kolaborasi yang kuat. Strategi yang tepat dalam meningkatkan kualitas akan secara alami mendorong peningkatan kuantitas kunjungan di masa mendatang,” tambahnya.
Menjawab Tren Pariwisata Masa Depan
Melihat tren global, Mujakkir menyoroti beberapa fokus utama yang akan mendominasi tahun 2026, antara lain wellness tourism, ekowisata, gastronomi, pengalaman budaya yang otentik, serta adopsi teknologi digital. Konvergensi tren ini, jika dikelola dengan baik melalui kolaborasi strategis dan pemanfaatan teknologi, berpotensi mendongkrak devisa negara, memberdayakan komunitas lokal, dan meningkatkan daya saing Indonesia di panggung global.
Pariwisata sebagai Investasi Jangka Panjang
Mujakkir berharap ada perubahan persepsi mendasar terhadap sektor pariwisata. Sektor ini tidak boleh lagi dipandang semata-mata sebagai industri hiburan, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat.
“Dengan pendekatan ini, kita dapat memperkuat optimisme bahwa pariwisata Indonesia akan tumbuh ke arah yang lebih jelas, lebih aman, dan lebih berkelanjutan untuk semua pihak,” pungkasnya.


