Sensor Pestisida Inovatif UI Raih Penghargaan Internasional

Sensor Pestisida Inovatif UI Raih Penghargaan Internasional

Sensor Pestisida Inovatif UI Raih Penghargaan Internasional

thaichili2go — Sebuah penelitian inovatif mengenai sensor pendeteksi pestisida yang dikembangkan oleh dosen Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia, Munawar Khalil, meraih pengakuan internasional. Karya ilmiah tersebut terpilih sebagai salah satu artikel Most Popular 2025 dalam jurnal bergengsi Nanoscale yang diterbitkan oleh Royal Society of Chemistry (RSC) di Inggris. Penghargaan ini diberikan kepada artikel yang paling banyak dibaca dan diunduh sepanjang tahun 2025.

Kolaborasi untuk Solusi Keamanan Pangan

Riset berjudul ‘Ultrasensitive non-enzymatic electrochemical detection of paraoxon-ethyl in fruit samples using 2D Ti₃C₂Tₓ/MWCNT-OH’ merupakan hasil kolaborasi antara FMIPA UI dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta A*STAR Singapura. Menurut Munawar Khalil, kolaborasi lintas institusi ini memperkaya perspektif riset dan membantu menjaga standar kualitas penelitian, mulai dari perancangan eksperimen hingga publikasi di jurnal bereputasi tinggi.

Dalam penelitiannya, tim menawarkan solusi inovatif untuk mendukung keamanan pangan, khususnya pada produk hortikultura. Sensor yang dikembangkan mampu mendeteksi residu pestisida jenis paraoxon-ethyl secara cepat, stabil, dan akurat. Desainnya dibuat agar mudah digunakan dan relatif terjangkau, sehingga memiliki potensi besar untuk dijadikan alat skrining langsung di pasar tradisional, pusat distribusi, atau kegiatan pengawasan lapangan.

Teknologi Berbasis Nanokomposit

Penelitian yang merupakan bagian dari tesis mahasiswa magister Departemen Kimia FMIPA UI, Asmi Aris, ini berfokus pada pengembangan sensor elektrokimia berbasis material komposit. Material tersebut menggabungkan MXene dua dimensi (Ti₃C₂Tₓ) dengan Multiwalled Carbon Nanotubes (MWCNT). Kombinasi kedua material ini terbukti mampu meningkatkan konduktivitas dan aktivitas elektroda secara signifikan, sehingga sensor dapat mendeteksi pestisida hingga batas yang sangat rendah, yaitu sekitar 10 nanomolar.

“Penelitian ini kami arahkan untuk menjawab kebutuhan nyata di lapangan, yaitu metode deteksi residu pestisida yang sensitif, stabil, dan tidak bergantung pada enzim,” jelas Khalil mengenai tujuan risetnya.

Tantangan dan Ketelitian dalam Proses Sintesis

Asmi Aris mengungkapkan bahwa proses penelitian memerlukan ketelitian tinggi. Sintesis material Ti₃C₂Tₓ melibatkan bahan kimia berbahaya seperti asam fluorida (HF), sehingga harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan sesuai protokol keselamatan ketat. Selain itu, durasi sintesis yang panjang menuntut konsistensi agar material yang dihasilkan benar-benar optimal untuk aplikasi sensor.

Tantangan lain muncul saat menentukan komposisi optimum nanokomposit Ti₃C₂Tₓ/MWCNT-OH. Perbedaan karakteristik antara material dua dimensi dan satu dimensi mempengaruhi luas permukaan, konduktivitas, serta gugus fungsional pada elektroda. “Komposisinya harus disesuaikan secara spesifik dengan analit target, dalam hal ini paraoxon-ethyl, agar sensor memiliki sensitivitas dan selektivitas yang tinggi,” papar Asmi.

Rencana Pengembangan ke Depan

Pada tahap pengujian sampel nyata seperti buah, kompleksitas matriks sampel juga menjadi tantangan tersendiri karena potensi interferensi dari senyawa lain. Ke depan, tim peneliti berencana untuk mengembangkan sensor ini agar semakin stabil dan efisien, serta dapat diterapkan pada berbagai jenis sampel pangan.

“Harapannya, teknologi ini dapat digunakan langsung di lapangan dan berkontribusi nyata dalam sistem pengawasan keamanan pangan,” harap Asmi. Capaian ini menegaskan peran FMIPA UI sebagai institusi riset yang aktif berkontribusi di tingkat global dengan penelitian yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga relevan dan aplikatif bagi kebutuhan masyarakat.